its been a long time, ak gak pernah
berkunjung ke blog ini lagi. Hari ini
kebetulan hari kesehatan mental dunia (10 Oktober 2020), mau share tulisan yg 1.5th terpendam di
hardisk. Hahaha gak sadar pernah nulis begini, sumber2 teorinya lupa naruh
dimana jadi ya gak bisa nyantumin di referensi.
“cara deactive ig bagaimana ya?”
“ak bosen liat stories orang isinya itu saja”
“kenapa mereka hidupnya enak ya, ak jadi
pingin deh”
“ak pingin liburan juga kayag mereka, ak
pingin kerja santai2 juga kayag mereka”
“orang ini ngeluh terus , knpa ngeluhnya di
bagi bagi di medsos sih?”
“kenapa orang2 sharenya ga penting semua sih”
Kalimat – kalimat tersebut sering sekali ada
di fikiran beberapa dari kita. Sehingga, kita tanpa sadar menyalahkan orang
lain atau media lain karena keresahan ini. Hal ini sangat wajar terjadi di masyarakat. Keresahan ini
sebenarnya timbul dari diri kita sendiri, ada yang salah dalam diri kita.
Dalam sebuah kajian dr Anna menyebutkan Dalam
dunia kesehatan ada satu singkatan unik CERDIK(Cek kesesatan rutin, Enyah asap
rokok, Rutin Aktivitas fisik, Diet sehat secara berkala, Istirahat cukup 6-8
jam, Kelola Stress). Kita tidak akan
membahas semua aspek tersebut disini akan kita bahas ttg kelola stess. Menurut
kbbi stress adalah gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan
oleh faktor luar; ketegangan. Stress sangat wajar terjadi namun menjadi tidak
wajar apabila terjadi secara terus menerus dan tidak dikelola dapat menimbulkan
depresi. Depresi itu apa sih???
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh
mahasiswa UGM menyebutkan depresi adalah Depresi adalah gangguan psikologis
yang paling umum ditemui. Depresi sangat normal terjadi untk merespon hal2 yang
sedih, seperti kehilangan keluarga, kehilangan barang yang dicantai dll. Namun,
Depresi menjadi abnormal apabila intensitasnya sangat tinggi dan berlangsung
terus menerus. Depresi abnormal ini masuk dalam salah satu penyakit mental (mental illness). Penyakit mental ini
bukan hal untuk lucu2an atau guyonan belaka dan ga perlu malu juga mengakui
kalua memang mental kita sedang terganggu. Mentall
illness ini bisa menjadi penyakit mematikan yang sejajar dengan kanker.
Dalam penelitian disebutkan Di tahun 1997, bunuh diri adalah penyebab kematian
nomor tiga pada populasi usia 10 sampai 24 tahun. Pada remaja yang menderita
gangguan depresi mayor, ada 7 persen yang bunuh diri di usia dewasa muda. Steinberg
(2002) bahkan menyebut bahwa ada 10 persen remaja Amerika yang pernah mencoba
bunuh diri setidaknya sekali dalam hidup mereka.
Kasus
bunuh diri karena depresi sangat sering terjadi dan hal ini sangat berbahaya
dan perlu menjadi perhatian serius. Depresi abnormal ini menyebabkan banyak
remaja di Indonesia mengatasinya dengan menggunakan narkotika. Dalam artikel di suara.com menanggapi kasus
tertangkapnya artis Jefri nichol kepala BNN Komisiaris Jenderal Polisi Heru
Winarko menyebutkan bahwa penggunaan narkotika
meningkat 24-28 %
“Hasil dari penelitian kita bahwa
penyalahgunaan itu beberapa tahun lalu, milenial atau generasi muda hanya
sebesar 20 persen dan sekarang meningkat 24 -28 persen itu adalah kebanyakan
pengguna anak-anak dan remaja," kata Heru di The Opus Grand Ballroom At
The Tribrata, Jakarta Selatan, Rabu (26/6).
Ciri – ciri depresi abnormal
adalah sering berfikir berlebihan, sering merasa kawatir berlebihan (khawatir
penilaian orang lain, kawatir kritikan orang tua, harga diri yang rendah,
merasa tdak berharga, tidak layak bahagia, tidak bisa memiliki prestasi dll),
tidak bisa menerima kondisi orang lain, merasa lelah dengan tantangan
hidup. Apabila hal itu terjadi pada
kalian sebaiknya harus mulai waspada dan mencari solusi.
Lalu kita harus bagaimana?
Hal yang pertama kita lakukan adalah
berbicaralah dengan diri kita sendiri terima semua keadaan yang kita alami,
kalua ingin menangis menangislah, ingin berteriak berteriak lah, keluarkan
semua hal yg mengganjal.
Kedua Karena Manusia mahluk social sangat wajar
butuh teman untuk cerita. Ceritakan keluh kesahmu pilih teman kepercayaanmu
untuk berbagi. Nabi Musa pun memerlukan N. Harun untuk menemani dakwahnya jadi
carilah partner yang sesuai untuk berbagi cerita. Berbagi cerita bukan berate
kamu seorang yang lemah tapi hal ini untuk menambah kekuatan.
Ketiga mari kita coba flashback kembali kemasa masa sekolah hal apa yang kita suka. Hal yang menimbulkan perasaan bahagia dan kepuasan batin ketika kita melakukanya. Misalnya puas setelah menari ya menarilah, puas setelah menulis ya menulislah, puas setelah berkebun ya berkebunlah, dan masih banyak lagi hal2 yang bisa menimbulkan kepuasan batin.
Jadi bagaimana kesimpulanya, siapakah yang bermasalah medsos, Instagram, orang lain atau sebenarnya kita sendiri? Silahkan mulai direnungkan dan diperbaiki tidak ada kata terlambat menurut quote2 klasik. J
24/7/19


