Rabu, 09 November 2016

Ketika yang Dasar Mengubah Indonesia :)

Posted by serlysworld on 22.09 with No comments


             








  Pada era ini, pembangunan infrastruktur si Indonesia begitu pesat. Hal tersebut bisa dilihat dengan maraknya perbaikan dan pembangunan infrastruktur, dimana bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, pernahkah kita menyadari ada hal lain yang membutuhkan perhatian lebih. Yaitu masalah SANITASI dan Air Bersih. Dimana masih banyak permasalahan yang tak terselesaikan. Mirisnya, bahkan masyarakat tidak tahu apa arti SANITASI.
                
           Berdasarkan KBBI Sanitasi adalausaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik di bidang kesehatan, terutama kesehatan masyaraka cara menyehatkan lingkungan hidup manusia terutama lingkungan fisik, yaitu tanah, air, dan udara. Sanitasi juga masuk kedalam 17 Goals SDGs 2030. Tahukah kalian, apa itu SDGs 2030. SDGs (Sustainable Development Goals) merupakan sebuah target pembangunan dunia yang dirancang oleh PBB untuk kemakmuran umat sedunia. Pada Goals ke 6 disebutkan targetnya adalah sanitasi dan air bersih. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa sanitasi dan air minum bukan semata- mata  menjadi permasalah yang sepele. Namun, masuk dalam target utama yang krusial dalam dunia. Indonesia sendiri memiliki sebuah target besar pada tahun 2019 yaitu 100.0.100. Namun, kondisi sanitasi Indonesia sendiri menduduki peringkat 8 di asia

gambar 1. peringkat sanitasi indonesia di asean
sumber: paths to 2015 mdg priorities in asia and the pacific : asia-pacific mdg report 2014/15
                
              Tahukah kalian Apa itu 100.0.100? kemungkinan besar tidak banyak yang tau mengenai target besar ini dalam waktu yang lumayan singkat.100.0.100 adalah 100 persen pelayanan air bersih,0 persen pemukiman kumuh,dan 100% layanan sanitasi. Target ini dicanangkan selesai pada tahun 2019. Betapa besar mimpi Indonesia. Namun, fakta yang ada membuat miris. Dimana masih terdapat 39,09% masyarakat di Indonesia yang belum mendapatkan akses sanitasi yang aman, terdiri dari 22,85% di perkotaan dan 55,26% di Perdesaan. Sementara akses sanitasi nasional berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, untuk pelayanan pengelolaan air limbah tahun 2013 sebesar 60,91% terdiri dari sistem perkotaan sebesar 77,15%  dan Perdesaan sebesar 44,74%.  Untuk akses Pelayanan Pengelolaan Sampah tahun 2013 berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,  sebesar 79,80 % terdiri dari sistem perkotaan sebesar 87,00 %  dan Perdesaan sebesar 72,60 % . Pelayanan tersebut berupa Sistem Pengelolaan Sampah dari Sumbernya,  meliputi  Sistem di Perkotaan sebesar : 41,00 % dan di Perdesaan sebesar 69,2%, serta Sistem Pengelolaan Akhir Sampah di Perkotaan sebesar : 46,00 % dan di Perdesaan sebesar 3,40%.
gambar 2. Potret Kondisi Sanitasi Indonesia



gambar 3. Konsisi Pemukiman kumuh di Keputih Pompa Surabaya



       Dengan fakta – fakta diatas apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa. Apakah kita hanya bisa diam tanpa menyumbang buah pikiran sedikitpun. Jika di ambil intinya kunci sukses SDGs 2030 atau 100.0.100 itu adalah MASYARAKAT. Untuk mensukseskan semua ini semua pihak harus ikut turun. Mulai dari Pemerintah pusat,provinsi,pemda,perangkat desa,masyarakat, serta Pergurutan tinggi. Jika yang bergerak hanya dari pemerintah pusat semua, target besar ini bisa dipastikan GAGAL.


Untuk itu kita harus melakukan pendekatan besar kepada masyarakat. Kita ambil satu contoh permasalahn sanitasi, dalam hal ini saya mengulas tentang BABs. Dengan target 100 % pelayan sanitasi. Fakta dilapangan menunjukan masih banyak masyarakat yang buang air sembarang dan belum memiliki jamban. Mereka enggan memiliki jamban karena mereka belum tau dampak besar yang ditimbulkan bila tidak memiliki jamban. Dengan demikian kita harus menawarkan sebuah penawaran unik yang menarik warga agar mau menggunakan dan membangun jamban. untuk mengajak masyarakat ikut andil dalam pelaksanaan ini kita harus melakukan sebuah pendekatan kepada perangkat desa, rt/rw setempat serta pemuka agama yang disegani karena masyarakat akan lebih patuh pada mereka.
            Kita ambil studi kasus di daerah keputih poma yang kebetulan berdasarkan survey yang saya lakukan lingkungan didaerah tersebut masih kumuh. Kita ingin membuat keputih Pompa Bebas BABs. Hal utama yang kita lakukan adalah mendekati para tokoh masyrakat yang ada kemudian kita berikakan wawasan mengenai sanitasi dan pentingnya sanitasi utamanya tentang jamban. Selain itu kita juga berikan wawasan kepada mereka bahwa jamban itu tidak mahal. Bahkan JAMBAN bisa jadi UANG. Pasti masyarakat akan tertarik dengan hal ini dan mereka mau untuk ikut serta dalam program ini. Jika sudah demikian semua akan berjalan dengan mudah ekonomi masyarakat meningkat pelayanan sanitasi meningkat.
 Jika seluruh elemen yang ada ikut turun dalam terwujudnya 100.0.100  tahun 2019 hal ini tidak akan menjadi mimpi di siang bolong. Jadi mari kita mulai langkah kecil kita dengan sedikit menengok ke lingkungan kita karena sudah saatnya kita peduli dan menyumbangkan buah pemikiran kita dan menuliskannya.

“Tidak ada yang salah dalam menulis yang salah ketika kita tidak menuliskan apa yang ada dalam fikiran kita karena Indonesia butuh buah pemikiran kita yang masih muda  J J

“Untuk mempercepat laju penanggulangan kemiskinan, bisa dimulai dengan mengembangkan paradigma baru, bahwa membangun infrastruktur dasar adalah proyek yang tak kalah mercusuarnya bila dibandingkan proyek infrastruktur besar. Adalah juga MAHAKARYA rezim”
(Kompas,21 oktober 2015)

Reference

Soedjono dkk, Opsi Sistem dan Teknologi Sanitasi, Tim Teknis, 2010
Ciptakarya.Pu.go.id. Direktorat PPLP Pastikan Kesiapan Pelaksanaan Kegiatan Tahun       2015.Diakses :10 november 2016
Ir. Prasetyo, M.Eng.Jakstra Pengembangan Sanitasi untuk akases universal.2016






0 comments:

Posting Komentar