Pada era ini, pembangunan infrastruktur si
Indonesia begitu pesat. Hal tersebut bisa dilihat dengan maraknya perbaikan dan
pembangunan infrastruktur, dimana bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Namun, pernahkah kita menyadari ada hal lain yang membutuhkan
perhatian lebih. Yaitu masalah SANITASI dan Air Bersih. Dimana masih banyak
permasalahan yang tak terselesaikan. Mirisnya, bahkan masyarakat tidak tahu apa
arti SANITASI.
Berdasarkan KBBI Sanitasi adalah usaha untuk membina dan menciptakan suatu
keadaan yang baik di bidang kesehatan, terutama kesehatan masyaraka cara menyehatkan lingkungan hidup manusia terutama
lingkungan fisik, yaitu tanah, air, dan udara. Sanitasi juga masuk kedalam 17
Goals SDGs 2030. Tahukah kalian, apa itu SDGs 2030. SDGs
(Sustainable Development Goals) merupakan sebuah target pembangunan dunia yang
dirancang oleh PBB untuk kemakmuran umat sedunia. Pada Goals ke 6 disebutkan
targetnya adalah sanitasi dan air bersih. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa
sanitasi dan air minum bukan semata- mata menjadi permasalah yang sepele.
Namun, masuk dalam target utama yang krusial dalam dunia. Indonesia sendiri
memiliki sebuah target besar pada tahun 2019 yaitu 100.0.100.
Namun, kondisi sanitasi Indonesia sendiri menduduki peringkat 8 di asia
gambar 1. peringkat sanitasi indonesia di
asean
sumber:
paths to 2015 mdg priorities in asia and the pacific : asia-pacific mdg report 2014/15
Tahukah kalian Apa itu 100.0.100?
kemungkinan besar tidak banyak yang tau mengenai target besar ini dalam waktu
yang lumayan singkat.100.0.100 adalah 100 persen pelayanan air bersih,0 persen
pemukiman kumuh,dan 100% layanan sanitasi. Target ini dicanangkan selesai pada
tahun 2019. Betapa besar mimpi Indonesia. Namun, fakta yang ada membuat miris.
Dimana masih
terdapat 39,09% masyarakat di Indonesia yang belum mendapatkan akses sanitasi
yang aman, terdiri dari 22,85% di perkotaan dan 55,26% di Perdesaan. Sementara
akses sanitasi nasional berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, untuk
pelayanan pengelolaan air limbah tahun 2013 sebesar 60,91% terdiri dari sistem
perkotaan sebesar 77,15% dan Perdesaan sebesar 44,74%. Untuk akses
Pelayanan Pengelolaan Sampah tahun 2013 berdasarkan data dari Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, sebesar 79,80 % terdiri dari sistem
perkotaan sebesar 87,00 % dan Perdesaan sebesar 72,60 % . Pelayanan
tersebut berupa Sistem Pengelolaan Sampah dari Sumbernya, meliputi
Sistem di Perkotaan sebesar : 41,00 % dan di Perdesaan sebesar 69,2%, serta
Sistem Pengelolaan Akhir Sampah di Perkotaan sebesar : 46,00 % dan di Perdesaan
sebesar 3,40%.
gambar 2. Potret Kondisi Sanitasi Indonesia
gambar 3. Konsisi Pemukiman kumuh di Keputih Pompa Surabaya
Dengan fakta – fakta diatas apa yang bisa kita
lakukan sebagai mahasiswa. Apakah kita hanya bisa diam tanpa menyumbang buah
pikiran sedikitpun. Jika di ambil intinya kunci sukses SDGs 2030 atau 100.0.100
itu adalah MASYARAKAT. Untuk mensukseskan semua ini semua pihak harus ikut
turun. Mulai dari Pemerintah pusat,provinsi,pemda,perangkat desa,masyarakat,
serta Pergurutan tinggi. Jika yang bergerak hanya dari pemerintah pusat semua,
target besar ini bisa dipastikan GAGAL.
Untuk itu kita harus melakukan pendekatan besar
kepada masyarakat. Kita ambil satu contoh permasalahn sanitasi, dalam hal ini
saya mengulas tentang BABs. Dengan target 100 % pelayan sanitasi. Fakta
dilapangan menunjukan masih banyak masyarakat yang buang air sembarang dan
belum memiliki jamban. Mereka enggan memiliki jamban karena mereka belum tau
dampak besar yang ditimbulkan bila tidak memiliki jamban. Dengan demikian kita
harus menawarkan sebuah penawaran unik yang menarik warga agar mau menggunakan
dan membangun jamban. untuk mengajak masyarakat ikut andil dalam pelaksanaan
ini kita harus melakukan sebuah pendekatan kepada perangkat desa, rt/rw
setempat serta pemuka agama yang disegani karena masyarakat akan lebih patuh
pada mereka.
Kita ambil
studi kasus di daerah keputih poma yang kebetulan berdasarkan survey yang saya
lakukan lingkungan didaerah tersebut masih kumuh. Kita ingin membuat keputih
Pompa Bebas BABs. Hal utama yang kita lakukan adalah mendekati para tokoh
masyrakat yang ada kemudian kita berikakan wawasan mengenai sanitasi dan
pentingnya sanitasi utamanya tentang jamban. Selain itu kita juga berikan
wawasan kepada mereka bahwa jamban itu tidak mahal. Bahkan JAMBAN bisa jadi
UANG. Pasti masyarakat akan tertarik dengan hal ini dan mereka mau untuk ikut
serta dalam program ini. Jika sudah demikian semua akan berjalan dengan mudah
ekonomi masyarakat meningkat pelayanan sanitasi meningkat.
Jika seluruh elemen yang ada ikut turun
dalam terwujudnya 100.0.100 tahun 2019 hal ini tidak akan menjadi mimpi
di siang bolong. Jadi mari kita mulai langkah kecil kita dengan sedikit
menengok ke lingkungan kita karena sudah saatnya kita peduli dan menyumbangkan
buah pemikiran kita dan menuliskannya.
“Tidak ada yang salah
dalam menulis yang salah ketika kita tidak menuliskan apa yang ada dalam
fikiran kita karena Indonesia butuh buah pemikiran kita yang masih muda J J “
“Untuk
mempercepat laju penanggulangan kemiskinan, bisa dimulai dengan mengembangkan
paradigma baru, bahwa membangun infrastruktur dasar adalah proyek yang tak
kalah mercusuarnya bila dibandingkan proyek infrastruktur besar. Adalah juga
MAHAKARYA rezim”
(Kompas,21
oktober 2015)
Reference
Soedjono dkk, Opsi
Sistem dan Teknologi Sanitasi, Tim Teknis, 2010
Ciptakarya.Pu.go.id. Direktorat PPLP Pastikan
Kesiapan Pelaksanaan Kegiatan Tahun 2015.Diakses :10 november 2016
Ir. Prasetyo, M.Eng.Jakstra Pengembangan Sanitasi untuk akases
universal.2016
0 comments:
Posting Komentar